Ada banyak keraguan yang mengitari diri Quiet ketika ia diperkenalkan pertama kali oleh Kojima. Ia menuai banyak cibiran.
Absurd, mustahil, eksploitasi seksual berlebih, inilah tiga buah
jenis komentar yang terus mengitari sosok Quiet – ketika sniper dengan
pakaian super minim tersebut diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh
Hideo Kojima. Kojima di kala itu berusaha mati-matian membela pilihan
desainnya ini. Terlepas dari keinginannya untuk memastikan lebih banyak
wanita untuk melakukan Cosplay Quiet yang sudah pasti akan membantu
mempopulerkan produknya, ia juga menegaskan bahwa pilihan pakaian minim
tersebut juga datang dengan alasan kuat yang didasarkan pada cerita yang
ada. Lantas, apa yang kami rasakan ketika melihat, bertemu, dan beraksi
dengan Quiet secara langsung ketika game ini dirilis? Satu yang pasti,
ia akan membuat banyak suara kritikan tanpa dasar di masa lalu bungkam.
Quiet adalah salah satu kunci pengalaman MGS V: The Phantom Pain yang
utama. Tanpanya, game ini akan terasa super hambar.
Kita tentu saja tidak hanya berfokus pada visual sensual nan
memanjakan mata yang ia “hidangkan” di MGS V: The Phantom Pain yang
memang tak punya karakter wanita lain untuk mendukung hal tersebut.
Posisi Quiet di seri terbaru ini bisa disejajarkan dengan fungsi Paz di
Peace Walker, Meryl di Metal Gear Solid pertama, EVA di Snake Eater dan
tentu saja – para Beauty and the Beast Unit di Metal Gear Solid 4,
menghadirkan faktor lain yang bisa menjadi pengalih perhatian sementara
untuk para penikmat franchise ini. Dengan semua hal yang dilakukan
Kojima dengan karakter-karakter wanita yang ia usung selama ini, tidak
ada yang berlebihan dengan Quiet, dari karakter hingga desain pakaiannya
sendiri yang memang lebih terbuka dibandingkan karakter-karakter wanita
MGS V yang lain. Menariknya lagi? Ia bukan sekedar representasi dari
otak kotor Kojima yang hadir tanpa alasan.
Wanita dengan daya tarik seksual yang kuat bukanlah barang baru di franchise ini. Meryl, Eva, dan Paz jadi bukti nyata. Quiet juga bisa diandalkan sebagai buddy yang mumpuni di dalam medan pertempuran.
Dari sisi gameplay, Quiet adalah salah buddy yang paling bisa
diandalkan. Berbeda dengan D-Horse atau D-Dog yang lebih banyak
mengandalkan perintah Anda untuk beraksi, Anda bisa menggunakan Quiet
untuk fungsi Recon dan Attack yang lebih menyeramkan. Kemampuan
Recon-nya mungkin tidak sebaik D-Dog, namun Quiet akan menawarkan fungsi
yang sama minus scouting resources. Sebagai gantinya, ia terkadang akan
melemparkan supply secara random di tempat tertentu jika ia
menemukannya. Kerennya lagi? Anda bisa memerintahkan Quiet ke mode
Attack – dimana ia bisa melindungi Snake setiap kali Reflex Mode
terpicu, atau bahkan sendirian “membersihkan” markas dengan senapan
jitunya, sementara Anda tengah sibuk menempuh misi yang lain. Ia
mematikan, berfungsi sebagai scout ataupun decoy, dan bisa diandalkan
untuk beragam fungsi, dari infiltrasi hingga serangan terbuka.
Maka seperti yang dijanjikan sebelumnya oleh Kojima, pilihan pakaian tersebut punya latar belakang yang kuat.
Semakin dekat hubungan Anda, semakin jelas pula niat Quiet untuk
menggoda Anda. Ia seperti berusaha berkomunikasi, namun tanpa kata-kata.
Seperti yang dijanjikan oleh Hideo Kojima di awal, pakaian yang
dipilih oleh Quiet memang mendasarkan diri pada latar belakang yang
kuat. Untuk mencegah spoiler lebih jauh, kami hanya bisa berbicara dua
hal: Pertama, Quiet bukanlah sosok seperti dimana ia terlihat secara
fisik. Kedua? Ia berbagi kekuatan dan fungsi tubuh yang hampir sama
dengan The End – salah satu boss sniper yang juga muncul di MGS 3: Snake
Eater. Kedua premis yang akhirnya mendorong Quiet mengusung pakaian
yang selama ini kita kenal. Menariknya lagi? Dari semua buddy yang bisa
Anda gunakan, ia menjadi satu-satunya yang terasa punya hubungan
personal yang lebih dekat dengan Big Boss. Terlepas dari absennya
kata-kata, Anda bisa melihat ketertarikan yang jelas dari sisi Quiet,
apalagi jika hubungan Anda sudah maksimal. Di helikopter, Quiet akan
mulai memperlihatkan aksi-aksi menggoda dengan tatapan mata yang seolah
hendak berbicara dengan Big Boss, tanpa kata-kata.
Kisahnya akan siap untuk membuat hati Anda remuk dan hancur berkeping-keping. Oh Quiet..
Namun peran Quiet tidak berhenti di sana saja. Dari semua cerita yang
ditawarkan oleh MGS V: The Phantom Pain, kisahnya yang paling akan
membuat Anda terenyuh. Tidak malu, kami harus mengakui, ia menjadi
satu-satunya alasan kami menitikkan air mata, sesuatu yang tidak pernah
bisa kami prediksi akan meluncur dari game action dengan atmosfer
science-fiction yang kental ini. Perlahan namun pasti, Anda akan mulai
mengerti apa yang sudah ia korbankan dan terus ia korbankan, hanya untuk
semata-mata, membuat perasaannya sampai di orang yang ia cintai. Quiet
akan menonjok hati dan perasaan Anda begitu keras, cukup untuk membuat
Anda menarik napas panjang dan terdiam untuk waktu yang lama.
Tapi Sayangnya….
Sayangnya, ada banyak kekurangan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Secara garis besar pengalaman yang ada, apalagi setelah preview kami
yang bombastis, MGS V: The Phantom Pain terdengar seperti sebuah game
yang sempurna. Bahwa fakta besar kemungkinan ia menjadi seri terakhir
yang diracik oleh Hideo Kojima memang berujung pada kualitas game yang
tidak terbantahkan. Bahwa dengan review luar yang begitu positif, ia
berhak menjadi salah satu pesaing Game of the Year yang mumpuni,
terlepas dari eksistensi The Witcher 3: Wild Hunt yang memesona dan
Fallout 4 yang punya chance besar untuk menarik hati yang sama. Namun
sayangnya, semakin jauh permainan berjalan – dimana kami menghabiskan
100 jam untuk menyelesaikan setiap misi yang ada – masalah terkait game
ini perlahan namun pasti, muncul ke permukaan, satu demi satu. Kojima
terasa seperti kurang waktu untuk menyelesaikan game ini. Apa saja? Kami
akan berusaha menjabarkannya lewat sesi terpisah ini.
Pertama, soal cerita. Ketika Anda membayar mahal untuk sebuah game,
apalagi yang disebut-sebut akan menjadi jembatan cerita untuk sebuah
franchise yang masif, Anda berhadap akan mendapatkan konklusi cerita
yang memuaskan. Beberapa game gagal melakukan hal tersebut, seperti
Batman: Arkham Knight, misalnya. Sayangnya, MGS V: The Phantom Pain juga
demikian. Konklusi cerita yang ia tawarkan ternyata masih menyisakan
lebih banyak pertanyaan yang belum terjawab, terutama soal eksistensi
Eli, “senjata curiannya”, dan pasukan anak-anak yang ia bawa. Secara
mengejutkan, MGS V: The Phantom Pain memutuskan untuk tidak membahas arc
cerita yang menggantung tersebut. Berita yang lebih buruknya lagi?
Ketika Anda menemukan bahwa seharusnya ada “Episode 51” yang tidak
pernah rampung dan hanya dirilis sebagai konten ekstra eksklusif untuk
para pemilik Collector’s Edition Playstation 4. Anda terus
bertanya-tanya, mengapa cerita fantastis ini justru tidak menjadi fokus
dan Anda justru harus berhadapan dengan konten yang lebih banyak
menyisakan tanda tanya. Fakta bahwa mereka “menjual” cerita lewat
kombinasi audio di cassette dan bukan lagi cut-scene seperti seri-seri
Metal Gear sebelumnya juga sangat disayangkan.
Memotong cerita sepenting ini? Seriously?
Dengan Chapter 1 yang didesain begitu fantastis, Anda berharap Chapter
selanjutnya bisa menawarkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang berakhir
dengan kekecewaan.
Kedua, berbicara soal Chapter. Ketika kami bertemu dengan ending dan
menyadari bahwa credits yang berjalan tersebut hanyalah berfungsi
sebagai akhir untuk “Chapter 1” setelah 70 jam permainan, kami gembira
dan menggila di saat yang sama. Mengapa? Karena semua cerita fantastis
dengan begitu banyak karakter keren yang Anda temukan selama kurun waktu
lama tersebut HANYALAH Chapter 1 saja. Lalu Anda bertemu dengan fakta
bahwa cerita soal perjalanan Big Boss ini belum lah selesai. Masih ada
konflik yang belum selesai, masih ada tanda tanya yang harus dijawab.
Apa yang Anda lakukan ketika menemukan setelah Chapter 1 sebegitu
fantastisnya? Anda tentu mengantisipasi bahwa Chapter berikutnya akan
jauh lebih keren dan gila, penuh pertempuran yang lebih epik. Berita
buruk, Anda tidak akan menemukan hal tersebut. Selain beberapa momen
emosional yang cukup menyentuh hati, Chapter 2 hadir dengan desain Main
Mission yang begitu buruk dan menyimpang dari daya tarik Chapter 1.
Bayangkan saja, alih-alih membawa Anda ke misi-misi dan jalinan cerita
baru, beberapa misi yang ia tawarkan di sesi ternyata menuntut Anda
untuk mengulang misi yang sudah Anda jalani di Chapter 1, namun hanya
dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Keputusan yang sangat aneh.
Ketiga, Boss Fight. Cerita dan Boss Fight adalah nilai jual Metal
Gear Solid sebagai franchise. Mengapa? Karena otak gila Hideo Kojima
seringkali berakhir dengan konsep Boss yang super keren dan terkadang
butuh solusi di luar nalar untuk diselesaikan. Anda masih ingat dengan
pertempuran Psycho Mantis di MGS satu? Atau The End di MGS 3? Atau
bahkan – lusinan Metal Gear Ray di MGS 2? Kita berharap bahwa level
kualitas pertempuran Boss di MGS V akan melewati semua kualitas
tersebut. Namun apa yang kita dapatkan? Pertarungan tidak epik yang
terasa sangat mainstream layaknya game-game action pada umumnya. Selain
pertempuran area terbuka melawan Sahelanthropus dan pertarungan melawan
Quiet, hampir tidak ada pertarungan yang cukup untuk membuat Anda
terpukau dan cukup untuk membuat otak Anda tidak mudah melupakannya
begitu saja. Pertarungan tangan kosong melawan Eli? Meh. Pertarungan
melawan Man on Fire? Lebih Meh. Pertarungan melawan para Skulls yang
hanya datang, menunjukkan sedikit kekuatan, tanpa personality? Super
Meh. Pertarungan melawan Skull Face yang seharusnya menjadi otak di
balik semua konflik yang ada dengan rencana yang mampu mengancam
stabilitas internasional? Lelucon. Anda akan garuk-garuk kepala
karenanya.
Pertarungan boss yang sama sekali tidak memorable.*sigh*
Keempat, soal microtransactions, tentu saja. Keputusan untuk
menyuntikkan sistem seperti ini di dalam MGS V: TPP tampaknya menjadi
tanggung jawab Konami, yang sejak awal kontroversinya dengan Kojima,
memang semakin memperlihatkan sifat beringasnya yang haus akan uang.
Beberapa berita sempat muncul dan membahas hal ini, yang kemudian
dibantah Konami dengan alasan klasik – bahwa Anda tidak pernah punya
keharusan untuk membeli sesuatu di game ini dan segala sesuatunya bisa
dicapai tanpa perlu mengeluarkan sepeserpun uang. Secara konsep, Konami
tidak berbohong. Tapi dari sisi aplikasi? Anda memang tidak bisa lepas
dari jeratan setannya.
Microtransactions untungnya, tidak muncul untuk mempercepat progress
R&D Mother Base Anda atau memungkinkan Anda untuk membeli item
langsung secara permanen, yang tentu saja – terasa lebih curang. Namun
ia menjadi benteng tak tertundukkan ketika Anda berusaha membeli area
baru untuk FOB dan melakukan ekspansi Mother Base Anda. Region kedua
untuk Mother Base Anda memang gratis, namun region selanjutnya, dengan
resource lebih kaya yang bisa ditambang, ternyata hanya bisa dibeli
dengan menggunakan koin khusus “MB” yang hanya tersedia via
microtransactions. Apakah koin ini bisa didapatkan dengan cara lain?
Satu-satunya cara lain untuk mendapatkan MB Coins hanyalah dengan
mendapatkan Reward dari Daily Login mode online MGS V: TPP dan tidak ada
cara lain. Anda hanya bisa mendapatkan maksimal 50 koin MB dengan
skedul pemberian bonus yang sangat bergantung pada kemurahan hati Konami
sendiri. Sementara di sisi lain, Anda tahu berapa banyak koin yang
harus dihabiskan untuk membeli satu region baru Mother Base? 1.200 koin
MB! Selamat mengumpulkan 50 koin entah sampai kapan tanpa
microtransactions jika Anda tertarik melakukan ekspansi Mother Base.
Kelima dan yang paling aneh? MGS V: The Phantom Pain tidak terasa
seperti game Metal Gear Solid, terlepas dari fakta bahwa elemen stealth
masih memainkan peran penting di dalamnya. Perlu diingat, bahwa semua
teknologi ini terjadi di era tahun 1980-an atau sebelum era Metal Gear
Solid pertama. Mengapa Sahelanthropus terlihat lebih maju secara
teknologi dibandingkan Metal Gear Rex di MGS pertama? Tenang, kita tidak
akan membicarakan hal tersebut karena ada penjelasan masuk akal di
sana, termasuk limitasi informasi dan teknologi yang mulai terjadi
ketika The Patriots aka La-Li-Lu-Le-Lo aktif di bawah tangan Cipher.
Kita membicarakan teknologi lain yang membuat game ini terasa menyimpang
dari akarnya. Di sebuah era dengan teknologi terbatas, Anda bisa
mengenakan pakaian bernama Parasite Suit untuk Snake yang tampilannya
tidak hanya mirip Crysis, tetapi juga menyediakan kemampuan untuk
menghilang secara permanen, melapisi diri dengan armor khusus, hingga
menciptakan kabut. Namun yang paling menyimpang dari kesemuanya? Tidak
lain dan tidak bukan – adalah teknologi Wormhole. Benar sekali, dengan
R&D level tinggi, Anda bisa menggantikan sistem Fulton klasik Anda
dengan Wormhole, yang memungkinkan Anda untuk mengangkut benda apapun,
seberat apapun, dimanapun dengan menggunakan lubang hitam ini secara
langsung ke Mother Base. Teknologi yang bahkan tidak bisa
diimplementasikan di MGS IV: Guns of the Patriots. What the..
! !! Dunia yang ditawarkan MGS V memang luas. Kaya? Tunggu dulu.
Keenam, sekaligus omelan kami yang terakhir? Dunia yang ditawarkan
oleh Hideo Kojima itu sendiri. Anda akan berganti-ganti lokasi dari
Afghanistan dan Afrika bergantung pada misi yang Anda pilih. Dengan
ruang area misi utama yang terbatas, kedua lokasi ini terasa padat
dengan musuh yang senantiasa siap untuk mencegah Anda mampu
menyelesaikan misi yang ada dengan mudah. Wilayah-wilayah yang
ditawarkan Kojima terasa begitu fantastis dan indah. Namun begitu Anda
mengeksplorasinya secara bebas? Semua hal magis tersebut seolah lenyap
begitu saja. Selain post-post yang Anda temui di dalamnya, dunia MGS V:
TPP benar-benar kosong. Yang Anda temukan hanyalah pemandangan, pohon,
dan tanah kosong dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan jalan kosong
yang juga minim aktivitas. Tidak ada rahasia yang bisa Anda cari atau
temukan. Semua tanah lapang tersebut hanya berfungsi sekedar sebagai
media Anda bergerak dan tidak lebih. Tidak ada civilian, tidak ada
aktivitas hidup, tidak ada misi sampingan lain yang bisa dilakukan atau
rahasia tersembunyi yang bisa Anda temukan. Sesuatu yang tentu saja,
sangat disayangkan.
0 komentar:
Posting Komentar